PANTALA | Jangkrik & Temperatur
64
single,single-post,postid-64,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-7.9,wpb-js-composer js-comp-ver-4.9.1,vc_responsive

20 Feb Jangkrik & Temperatur

Krik.. Krik.. Krik…
Bunyi jangkrik di bawah pohon…

Tahukan kamu..? Kita bisa mengetahui suhu di sekitar kita dengan cara menghitung derikan jangkrik, khususnya jangkrik pohon (Oecantus sp). Cara termudahnya adalah:

Menghitung jumlah derikan selama 13 detik, kemudian tambahkan 40. Bilangan yang didapat adalah suhu dalam derajat Fahrenheit.

Untuk suhu dalam derajat Celcius, hitung derikan selama 15 detik, kemudian tambahkan 9, lalu hasilnya dibagi 2.

Rumus menentukan suhu dari bunyi jangkik pertama kali diperkenalkan oleh A.E. Dolbear pada tahun 1897, seorang professor di Tufts College. Rumus aslinya sih, dalam hitungan menit: (whew!rumus lagi-rumus lagi…)

Dan dengan modifikasi untuk derajat Celcius

nb: kalo pusing, dilewat aja baca rumusnya laughing

Sejak munculnya rumusan ini, banyak orang yang mencari-cari rumus lainnya untuk menghubungkan suhu dengan derik serangga, beberapa diantaranya adalah (dalam Fahrenheit) Jangkrik pohon salju (ecanthus fultoni): Hitung selama 13 detik, tambahkan 31; Tongeret (Tettigoniidae sp): Hitung selama 20 detik, tambahkan 54.

 

Mengapa bisa begitu?

Pertama-tama, kita harus tahu dulu mengapa serangga membuat suara?

  • untuk berkomunikasi dengan sesamanya
  • untuk menarik pasangannya. Biasanya si jantan yang bersuara untuk menarik betinanya
  • ketika mereka diganggu, yaitu untuk menakut-nakuti predatornya, ataupun memperingatkan sesamanya akan bahaya
  • menandai daerahnya. Si jantan bersuara untuk memperingatkan jantan lainnya akan daerah kekuasaannya

Serangga merupakan hewan bedarah dingin, karenanya fungsi tubuh mereka sesuai dengan pengaruh temperatur lingkungan sekitar. Jangkrik dan tongeret jantan bederik dengan menggesekkan kedua sayapnya. Masing-masing spesies memiliki bunyi khas-nya masing-masing, dimana bunyinya tersebut dipengaruhi oleh suhu. Jangkrik akan berderik lebih cepat jika suhu lingkungan sekitar tinggi, dan melambat jika suhu lingkungan rendah.

Walaupun secara TEORI nampak mudah, pada prakteknya, menghitung bunyi jangkrik tidaklah mudah. Ada beberapa penyebabnya yaitu:

  • jangkrik umumnya tidak berderik pada suhu di bawah 55F atau di atas 100F
  • beberapa jangkrik tidak berderik secara diskrit, namun mereka begetar secara kontinu
  • derikan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti umur jangkrik, musim kawin, kelaparan, dan persaingan dari jantan didekatnya
  • jangkrik yang lagi ketakutan buat makanan survival, udah ga berderik lagi deh kayaknya mereka saking ketakutannya! winkinghttp://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/24.gif

OK, terutama buat yang sering camping, selamat mempraktekkan di alam!

sumber :
http://www.snopes.com/science/cricket.asp
http://blog.globe.gov/sciblog/2007/10/05/measuring-temperature-using-crickets